Kita berdua hanya berpegangan tangan
Tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita
Tak perlu memuji
Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya menjalani cinta
Tapi menghidupi
Ketika rindu, menggebu gebu, kita menunggu
Jatuh cinta itu biasa saja
Saat cemburu, kian membelenggu, cepat berlalu
Jatuh cinta itu biasa saja
Jika jatuh cinta itu buta
Berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap
Lalu hati kita gelap
Sabtu, 21 Mei 2011
Rabu, 18 Mei 2011
Dia
Huruf A punya makna yang luar biasa buat aku. Huruf ini adalah huruf depan nama seseorang yang punya pengaruh sangat besar dalam perjalanan hidupku. Seseorang di masa laluku yang nggak akan pernah bisa aku lupain. Dia adalah orang pertama yang pernah masuk kedalam hidupku dan ngajarin aku tentang arti sebuah pengorbanan. Dulu aku nggak pernah tahu bagaimana rasanya disayangi sama seseorang, tapi dia ngasih aku rasa itu. Rasa yang nggak pernah aku dapat dari orang lain. Aku selalu ngerasa nyaman dan aman berada didekatnya. Dia punya sesuatu—entah apa itu—yang bisa bikin aku betah berlama-lama dekat dengannya. Meskipun terkadang dia nyebelin banget, selalu buat aku nangis. Tapi senyebelin apapun dia aku nggak pernah bisa benci sama dia. Sayang sama dia bikin aku sakit, tapi membencinya bikin aku lebih ngerasa sakit karna aku sayang dia. Aku selalu bisa ceritain semua hal yang nggak bisa aku ceritain sama orang lain ke dia. Dia emang sering banget nyakitin aku, tapi dia juga ngasih aku kebahagian yang jauh lebih besar. Aku bisa tersenyum, ketawa, jatuh cinta, sedih, seneng, susah, bahagia, nangis, semua cuma sama dia. Dia orang pertama yang ngasih warna dalam kanvas hidupku. Sebelumnya di kanvasku cuma ada hitam dan putih. Tapi semenjak dia masuk dalam duniaku, semuanya berubah. Kanvasku mulai berwarna, merah, kuning, hijau, biru, ungu, pink, nila, jingga, cokelat, abu, dan masih banyak lagi. duniaku pun akhirnya penuh warna. Dia ngenalin aku sama dunia yang nggak pernah aku tahu sebelumnya. Dia ngajarin aku tentang kehidupan, kebahagiaan, cinta, dan semuanya yang aku nggak tahu. Dia selalu muncul dan muncul lagi setiap kali aku udah mulai bisa lupa dia. Seolah dia nggak mau aku lupain dia. Aku mau dia bahagia dengan atau tanpa aku. Apapun yang terjadi aku selalu doain yang terbaik untuknya. Sekarang aku mulai mengerti arti dari sebuah pengorbanan.
“although the time came and went until you were not to survive, all will not be able to change me, only you in my heart, only you can make me fall and love, you're not just beautiful you will not be replaced
“although the time came and went until you were not to survive, all will not be able to change me, only you in my heart, only you can make me fall and love, you're not just beautiful you will not be replaced
Selasa, 10 Mei 2011
My Mood Booster, R
Sudah lama aku ngga ‘numpang’ curhat di blog punya temanku ini hehe. Banyak yang terlewati, tapi aku ngga sempet (lebih tepatnya bingung gimana nulis permulaannya haha) intinya aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya yang menyayangiku. Beberapa teman dekatku, salahsatunya pemilik dari blog ini sangat mengetahui dengan detail mengapa aku mengakhiri hubunganku dengannya. Pointnya adalah, aku tidak ingin semakin membuatnya sakit hati karena aku membohongi diriku sendiri untuk menyayanginya.
Aku kembali dengan rutinitas yang sangat padat. Karena aku mengikuti dua organisasi kampus dan keduanya sedang mengadakan acara yang memaksa aku untuk sibuk kedalamnya. Sosok mood booster ku adalah pemilik ‘si merah’, sahabatku. Semenjak dia mengetahui aku sudah kembali menjadi anak perempuan yang bebas dan tidak terikat (naoooon) kami menjadi seperti yang dulu lagi. Tidak terlalu berbeda, kecuali statusku. Bertemu, canda tawa, bercerita dengannya seperti ada energi yang sangat positif masuk dalam diriku. Aku menjadi bersemangat menjalani rutinitas, tidak mudah mengeluh, dan selalu tersenyum. Paling tidak, aku harus bertemu dengan pemilik ‘si merah’ ini sekali dalam sehari. Ternyata mengobrol atau sekedar melihatnya pun menjadi motivasi dan dorongan yang besar untuk menjalani hari-hari dengan riang.
Ketika aku dalam keadaan terpuruk, tidak bersemangat, dan sangat membutuhkannya terkadang dia seperti mengulurkan bahunya untuk aku bersandar walaupun itu bukan terjadi secara fisik. Seringkali ia memberikan nasihat yang sebenarnya kata-kata yang terucap tidak enak didengar, namun aku tau dia mendukungku. Suatu ketika aku tidak bertemu dengannya selama 10 hari. Aku tau ibu dan neneknya baru saja menjalani operasi, dan dia meminta doa lewat pesan singkat untuk kelancarannya. Memberikan semangat, kata-kata yang alakadarnya untuk memotivasi, mengingatkan untuk solat, setidaknya dia tau jika aku selalu ada untuknya dalam kondisi apapun. Kembali lagi ke topik 10 hari aku tidak bertemu dengannya. Aku seperti orang ‘sakau’, kecanduan obat-obatan terlarang. Setiap aku kekampus, selalu menyempatkan diri ketempat parkir, untuk melihat motornya ada atau tidak. Ternyata tidak, aku tertunduk lesu. Aku tidak ingin menanyakan padanya langsung apakah dia mau kekampus atau tidak, aku gengsi. Setiap hari aku memikirkan alasan yang cocok sekedar basa-basi untuk mengirim pesan singkat padanya, akhirnya aku dapat. “anterin aku yu besok beli kado buat bapak ulangtaun. Aku pengen ngsh kado euy” kira-kira begitu isi pesanku, SEND. Aku cemas menunggu balasannya, beberapa menit kemudian “aduh aku baru bangun tdr, lagi sakit, ga arenak badan, hareeng,pusing :s gatau, I.Allah ya besok juga gatau kkmpus/ngga,td aja ga kekampus” ternyata dia lagi sakit, seketika aku sangat khawatir dengannya. Mama dan neneknya pun sedang dalam keadaan yang tidak sehat, sedangkan dia harus merawat dua sosok wanita tangguh dalam hidupnya. Seharusnya aku bisa maklum bukannya mengajak dia untuk mengantarkanku, sesal yang aku rasakan.
Tiba lah hari senin, aku sudah benar-benar ‘sakau’ ingin segera bertemu dengannya. Bayangkan, 10 hari tidak bertemu? Seharusnya kami bisa bertemu dalam kelas, tapi ya begitulah. Suatu ketika selesai solat, aku ke fakultas untuk mencari adik angkatanku. Tiba-tiba dari arah tangga ada seseorang yang merangkul ke leher dengan keras, ketika aku melirik ternyata dia, pemilik ‘si merah’ yang aku rindukan selama 10 hari belakangan! Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku, aku tarik tasnya dan bertanya “eeeh mau kemanaaa?” dia hanya jalan santai, bilang “apa sih, lepas tas aku ih” terselip senyum yang seperti mengisyaratkan dia senang bertemu denganku #NGAREEEEP HAHAHA. Kami berbincang-bincang sejenak lalu ia pergi menghampiri temannya dilapangan basket. Seketika mood aku menjadi baik, yang awalnya lelah, ngga bersemangat karena baru menyelesaikan SG, berkat dia aku kembali menjadi bersemangat :”> mengintip dari jendela BEM, ternyata masih ada di lapangan basket. Ah, benar-benar senin yang indah :’)
Hari selasa adalah hari favoritku. Karena apaaaa? Ada mata kuliah Komunikasi Politik hahahaha. Setiap mata kuliah ini, aku seringkali bercanda, ngobrol, pokonya bersama dengannya. Dan hari selasa-ku kali ini cukup baik :”>
Diawali saat aku sedang menunggu kelas bersama nadya, puti dan teman-teman yang lain, dia datang dengan segerombolan anak kelasku juga. Aku menyadari adanya dia, tapi aku pura-pura tidak sadar dan sibuk mengobrol dengan nadya dan puti. Tiba-tiba ada yang menjitak kepalaku, aku tau kalau itu dia dan aku raih tangannya lalu bilang “iih maneh” dengan wajah cuek. Dia menyadari jika aku memakai tas yang tidak biasanya aku pakai, tas ketek aku menyebutnya. Tersenyum setengah tertawa mengejek dia memandang kearahku. Waktu aku tanya aku pantas pakai tas ini atau ngga, dengan wajah cueknya dia menjawab “haha jelek. Ngapain pake tas begituan? Ga pantes” cemberut aku mendengarnya, padahal aku sendiri tidak nyaman dengan tas ketek ini. Didalam kelas kami duduk berjauhan, tapi tetap bisa saling menatap satu sama lain #eeeaaaaaa. Kelas komunikasi politik pun selesai, dilanjutkan dengan PAI4. Sebenarnya aku malas untuk masuk mata kuliah ini, tapi sambil nunggu rapat SM daripada gada kerjaan lebih baik masuk kelas. Pemilik ‘si merah’ bilang padaku kalau dia akan masuk kelas PAI, aku semakin girang. Melihat jam, menengok pintu, dia tak kunjung datang. Aku kesal, dan kupikir dia takkan datang. Sebentar kemudian datang segerombol perempuan, yang didalamnya ada dia dan wanita yang sempat dekat dengannya. Melihat itu aku semakin kesal, tatapanku dingin.
Aku duduk dilantai dekat kakinya karena aku sedang men-charge ponselku. Sebenarnya aku berniat tidak peduli padanya, tapi dasarnya aku ngga bisa cuek ya begitulah. Saat aku ini beranjak, dia menahanku dengan kekuatan tangan yang sangat sangat keras sambil tertawa meremehkan. Namun akhirnya aku dilepaskan. Kelas pun berakhir ketika turun tangga, dia menjaili ku terus menerus, dan aku menikmatinya :”> walau terkadang kelewatan. Waktu dilantai terakhir dia bilang “aku bawa si merah da” sambil memperlihatkan kunci motor dan tersenyum. Aku menyambut dengan girang “wah iya? Bagus-bagus. Mendingan naik si merah lah hahaha” lalu dia pergi ke parkiran, tapi ngga pamit padaku, melainkan orang lain –‘
Meskipun hanya bertemu sebentar, dia sangat berpengaruh besar dalam menaikkan mood aku yang awalnya nol menjadi 100. halo pemilik ‘si merah’ you are my mood booster :’)
"pengalaman seorang teman yang tidak ingin disebutkan namanya"
Aku kembali dengan rutinitas yang sangat padat. Karena aku mengikuti dua organisasi kampus dan keduanya sedang mengadakan acara yang memaksa aku untuk sibuk kedalamnya. Sosok mood booster ku adalah pemilik ‘si merah’, sahabatku. Semenjak dia mengetahui aku sudah kembali menjadi anak perempuan yang bebas dan tidak terikat (naoooon) kami menjadi seperti yang dulu lagi. Tidak terlalu berbeda, kecuali statusku. Bertemu, canda tawa, bercerita dengannya seperti ada energi yang sangat positif masuk dalam diriku. Aku menjadi bersemangat menjalani rutinitas, tidak mudah mengeluh, dan selalu tersenyum. Paling tidak, aku harus bertemu dengan pemilik ‘si merah’ ini sekali dalam sehari. Ternyata mengobrol atau sekedar melihatnya pun menjadi motivasi dan dorongan yang besar untuk menjalani hari-hari dengan riang.
Ketika aku dalam keadaan terpuruk, tidak bersemangat, dan sangat membutuhkannya terkadang dia seperti mengulurkan bahunya untuk aku bersandar walaupun itu bukan terjadi secara fisik. Seringkali ia memberikan nasihat yang sebenarnya kata-kata yang terucap tidak enak didengar, namun aku tau dia mendukungku. Suatu ketika aku tidak bertemu dengannya selama 10 hari. Aku tau ibu dan neneknya baru saja menjalani operasi, dan dia meminta doa lewat pesan singkat untuk kelancarannya. Memberikan semangat, kata-kata yang alakadarnya untuk memotivasi, mengingatkan untuk solat, setidaknya dia tau jika aku selalu ada untuknya dalam kondisi apapun. Kembali lagi ke topik 10 hari aku tidak bertemu dengannya. Aku seperti orang ‘sakau’, kecanduan obat-obatan terlarang. Setiap aku kekampus, selalu menyempatkan diri ketempat parkir, untuk melihat motornya ada atau tidak. Ternyata tidak, aku tertunduk lesu. Aku tidak ingin menanyakan padanya langsung apakah dia mau kekampus atau tidak, aku gengsi. Setiap hari aku memikirkan alasan yang cocok sekedar basa-basi untuk mengirim pesan singkat padanya, akhirnya aku dapat. “anterin aku yu besok beli kado buat bapak ulangtaun. Aku pengen ngsh kado euy” kira-kira begitu isi pesanku, SEND. Aku cemas menunggu balasannya, beberapa menit kemudian “aduh aku baru bangun tdr, lagi sakit, ga arenak badan, hareeng,pusing :s gatau, I.Allah ya besok juga gatau kkmpus/ngga,td aja ga kekampus” ternyata dia lagi sakit, seketika aku sangat khawatir dengannya. Mama dan neneknya pun sedang dalam keadaan yang tidak sehat, sedangkan dia harus merawat dua sosok wanita tangguh dalam hidupnya. Seharusnya aku bisa maklum bukannya mengajak dia untuk mengantarkanku, sesal yang aku rasakan.
Tiba lah hari senin, aku sudah benar-benar ‘sakau’ ingin segera bertemu dengannya. Bayangkan, 10 hari tidak bertemu? Seharusnya kami bisa bertemu dalam kelas, tapi ya begitulah. Suatu ketika selesai solat, aku ke fakultas untuk mencari adik angkatanku. Tiba-tiba dari arah tangga ada seseorang yang merangkul ke leher dengan keras, ketika aku melirik ternyata dia, pemilik ‘si merah’ yang aku rindukan selama 10 hari belakangan! Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku, aku tarik tasnya dan bertanya “eeeh mau kemanaaa?” dia hanya jalan santai, bilang “apa sih, lepas tas aku ih” terselip senyum yang seperti mengisyaratkan dia senang bertemu denganku #NGAREEEEP HAHAHA. Kami berbincang-bincang sejenak lalu ia pergi menghampiri temannya dilapangan basket. Seketika mood aku menjadi baik, yang awalnya lelah, ngga bersemangat karena baru menyelesaikan SG, berkat dia aku kembali menjadi bersemangat :”> mengintip dari jendela BEM, ternyata masih ada di lapangan basket. Ah, benar-benar senin yang indah :’)
Hari selasa adalah hari favoritku. Karena apaaaa? Ada mata kuliah Komunikasi Politik hahahaha. Setiap mata kuliah ini, aku seringkali bercanda, ngobrol, pokonya bersama dengannya. Dan hari selasa-ku kali ini cukup baik :”>
Diawali saat aku sedang menunggu kelas bersama nadya, puti dan teman-teman yang lain, dia datang dengan segerombolan anak kelasku juga. Aku menyadari adanya dia, tapi aku pura-pura tidak sadar dan sibuk mengobrol dengan nadya dan puti. Tiba-tiba ada yang menjitak kepalaku, aku tau kalau itu dia dan aku raih tangannya lalu bilang “iih maneh” dengan wajah cuek. Dia menyadari jika aku memakai tas yang tidak biasanya aku pakai, tas ketek aku menyebutnya. Tersenyum setengah tertawa mengejek dia memandang kearahku. Waktu aku tanya aku pantas pakai tas ini atau ngga, dengan wajah cueknya dia menjawab “haha jelek. Ngapain pake tas begituan? Ga pantes” cemberut aku mendengarnya, padahal aku sendiri tidak nyaman dengan tas ketek ini. Didalam kelas kami duduk berjauhan, tapi tetap bisa saling menatap satu sama lain #eeeaaaaaa. Kelas komunikasi politik pun selesai, dilanjutkan dengan PAI4. Sebenarnya aku malas untuk masuk mata kuliah ini, tapi sambil nunggu rapat SM daripada gada kerjaan lebih baik masuk kelas. Pemilik ‘si merah’ bilang padaku kalau dia akan masuk kelas PAI, aku semakin girang. Melihat jam, menengok pintu, dia tak kunjung datang. Aku kesal, dan kupikir dia takkan datang. Sebentar kemudian datang segerombol perempuan, yang didalamnya ada dia dan wanita yang sempat dekat dengannya. Melihat itu aku semakin kesal, tatapanku dingin.
Aku duduk dilantai dekat kakinya karena aku sedang men-charge ponselku. Sebenarnya aku berniat tidak peduli padanya, tapi dasarnya aku ngga bisa cuek ya begitulah. Saat aku ini beranjak, dia menahanku dengan kekuatan tangan yang sangat sangat keras sambil tertawa meremehkan. Namun akhirnya aku dilepaskan. Kelas pun berakhir ketika turun tangga, dia menjaili ku terus menerus, dan aku menikmatinya :”> walau terkadang kelewatan. Waktu dilantai terakhir dia bilang “aku bawa si merah da” sambil memperlihatkan kunci motor dan tersenyum. Aku menyambut dengan girang “wah iya? Bagus-bagus. Mendingan naik si merah lah hahaha” lalu dia pergi ke parkiran, tapi ngga pamit padaku, melainkan orang lain –‘
Meskipun hanya bertemu sebentar, dia sangat berpengaruh besar dalam menaikkan mood aku yang awalnya nol menjadi 100. halo pemilik ‘si merah’ you are my mood booster :’)
"pengalaman seorang teman yang tidak ingin disebutkan namanya"
Sabtu, 09 April 2011
Antara Aku, Dia dan si Wafer Crispy Berlapis Cokelat
Buat yang suka banget sama cokelat pasti tau cokelat apa yang aku maksud. Yups, si wafer caramel yang dibalut sama crispy dan coklat. Sebenernya aku nggak begitu suka sama cokelat, tapi buat yang satu ini aku nggak tau kenapa aku bisa suka banget. Rasanya emang nggak jauh beda sama wafer-wafer cokelat lainnya. Tapi makanan yang satu ini bisa bikin aku ketagihan.
Aku pasti bisa ngerasa seneng banget kalo udah ketemu sama sibungkusan merah-kuning ini. Nggak ngerti kenapa bisa gitu. Tapi karena cemilan yang satu ini, aku bisa ngerasa deket banget sama seseorang berinisial H. Contohnya kaya beberapa kejadian yang aku alami baru-baru ini.
31 Maret 2011.
Waktu itu aku, Rista, Rifki sama Hari ngerjain tugas komunikasi politik bareng dirumah aku. Kita berempat ngerjain dari abis Ashar. Sampe Maghir itu tugas belum juga selesai. Ampun dah susah banget. Sekitar jam 17.50 adzan maghrib mulai berkumandang. Hari sama Rifki ikut solat dikamar aku.
Beres solat mereka berdua datang dengan satu bungkusan kecil berwarna merah-kuning ditangan masing-masing. Itu kan wafer crispy lapis cokelat aku? Pikirku dalam hati. Aku cuma bisa bengong ngeliat mereka ngebuka plastik pembungkusnya di depan mata aku. Hari dan Rifki yang nyadar muka aku mulai manyun, ngtawain aku. Terus Hari duduk hampir sebelahan sama aku.
“Mau, Na?” tanya Hari sama aku. Awalnya aku masih manyun tapi berhubung ada kesempatan aku ambil aja tuh bungkusan kuming-merah dari tangannya dan aku gigit sedikit isinya. Hahahahahah
“Sok-sokan nawarin kamu, Ri, itu punya siapa coba?” celetuk Rista yang kemudian diiringi ketawanya Hari.
“Udah, Na, kamu mah segigit aja!” kemudian si Hari ngambil cokelat itu dari tangan aku.
Aku cuma bisa manyun dan ngedumel dalam hati. Tapi jujur aku seneng banget waktu itu. aku bisa ngerasa deket banget sama Hari. Nggak pernah kepikiran bakal ada hari itu. Tiba-tiba Hari nyodorin lagi bungkusan cokelat itu ke aku.
“Mau lagi ga? Abisin nih!” ucapnya.
Aku langsung ambil tanpa bilang apa-apa. Aku gigit sedikit dan sisanya aku balikin sama dia. “Masih ada nih.”
“Abisin aja, Na!” katanya lagi.
“Nggak ah udah buat kamu aja.” Bungkusannya dia ambil dari tangan aku.
Ampuuuuuunn aku seneng banget waktu itu. kalo aku bisa aku udah pasti ketawa-ketawa sendiri dah saking senengnya. Hahahahahahaha
26 April 2011
Hari ini aku dapet wafer cokelat gratis dari Nita. Lumayan, aku langsung makan aja tuh wafer cokelat. Kebetulan aku ada kuliah PAI 4, aku, Ratu, Erma, Oche, dan Nuy langsung menuju lantai 4. Sampai di lantai 4 aku ketemu Hari lagi ngobrol sama Bagus dan Mas Bas. Aku langsung nyamperin mereka, tapi nggak nyangka banget Hari tiba-tiba manggil aku.
"Na, sini!" Panggil Hari.
Aku langsung tau maksud dia manggil aku. pasti dia mau minta wafer crispy cokelat aku. Yah udah deh, langsung aja aku sodorin, "Nih," ucapku sambil aku kasihin ke dia.
Hari langsung nyamber si kuning-merah dari tangan aku.
"Semuanya nih, Na?" tanyanya sama aku.
"Udah abisin aja." jawabku. Huuuaaaaaa senengnyaaaaaaa...
Abis itu aku biasa aja. Tapi tiba-tiba Bagus manggil aku. "Nuy, nih katanya si Hari minta minum."
Aku senyum terus aku kasihin aja botol minumku ke Hari. Double deh senengnya, hahahahahahahaha...
10 Mei 2011
Hari ini hari selasa. aku harus kembali mengikuti mata kuliah yang paling aku benci di semester 4 ini, Komunikasi Politik. Mungkin karena emang aku nggak begitu paham dan nggak mau tau soal perkembangan politik jadinya aku benci banget sama mata kuliah ini. tapi mau gimana lagi, aku harus masuk kelas. Beres kuliah komunikasi politik aku terpaksa harus ikut mata kuliah PAI 4 yang berlokasi dilantai 4. capek, panas, malas, dan semuanya campur aduk. Sesampainya dilantai 4 Rista ngajak aku ke kantin. Dia pingin beli wafer crispy coklat. Sayangnya cokelat favorit aku itu cuma tinggal ada dua. Aku emang nggak berniat beli sih, cuma emang dasar rejeki lagi bagus, tiba-tiba Rista ngasih aku satu wafer cokelatnya ke aku.
"Nih, Na, buat kamu." Ucapnya sambil memberikan si kuning-merah padaku.
Aku yang lagi ngelamun sedikit kaget, "Naha dikasihin ke aku?" tanyaku heran.
"Udah nggak apa-apa, buat kamu." katanya lagi.
Aku yang emang doyan banget sama wafer cokelat ini dengan senang hati menerima pemberian Rista. "Asyik... maaciii.. maacii.." ucapku pada Rista.
lalu aku sama Rista meninggalkan kantin menuju kelas. Tapi seperti biasa aku ketemu Hari yang lagi dudul depan kelas bareng Raptor dan Masbas.
"Na, kamu beli dua nggak wafer cokelatnya?" tanya Hari tiba-tiba saat aku menghampiri tempatnya duduk.
"Nggak cuma satu, dikasih Rista ini juga." jawabku seadanya. Aku tau pasti dia mau minta wafer cokelatku lagi.
"Pasti kamu mau da, huh, kamu mah mau aja." ucap Rista sambil nyeloyor melewatinya.
Aku nggak langsung menggigit wafer cokelat ditanganku karena aku tau Hari menungguku menawarinya. Aku potong wafer itu sedikit dan aku sodorkan sisanya pada Hari. Tanpa basa-basi dia langsung menggigit cokelatku. Lalu mengembalikan sisanya padaku. Aku nggak mau ada yang salah paham atau apa pun itu, makanya aku langsung menawari Mas Bas dan Raptor juga yang kebetulan duduk di sebelah Hari. Tapi mereka menolaknya. Syukurlah, hahahahahah. :)
Begitulah kira-kira kejadian yang terjadi antara aku dan Hari bareng si wafer crispy berlapis cokelat. Berkat cokelat satu ini aku jadi punya cerita tentang Hari yang bikin aku seneng banget.
Mungkin dua kejadian ituyang bikin aku bisa suka banget saka si wafer crispy berlapis cokelat ini. Selain bisa bikin aku ngerasa bersemangat kalo udah makan cokelat ini, si kuning-merah ini juga ngasih aku kenangan yang nggak akan pernah aku lupain.
Selasa, 05 April 2011
Hujan-Utopia
Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak 'kan berubah
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku
"Aku suka hujan. Karena kalo hujan turun ngingetin aku sama seseorang. Dia yang buat aku jadi lebih baik. Dia yang selalu kasih aku semangat. Dia yang buat aku lupa sama masa lalu aku."
I like the rain because nobody knows I'm crying
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak 'kan berubah
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku
"Aku suka hujan. Karena kalo hujan turun ngingetin aku sama seseorang. Dia yang buat aku jadi lebih baik. Dia yang selalu kasih aku semangat. Dia yang buat aku lupa sama masa lalu aku."
I like the rain because nobody knows I'm crying
Langganan:
Postingan (Atom)

